Di hari yang sama. Hari ini tadi pagi ga tau kenapa ada
sesuatu yang aneh rasa nya, tiba-tiba bangun tidur pengen meluk si gembul
boneka yang pernah kamu kasih buat aku. Lagi-lagi aku gagal melupakan mu,
melupakan kita dulu. Ga tau lagi aku udah kehabisan tempat buat menceritakan mu
ke teman-teman ku. Percuma, mereka udah bosan mendengar nama mu ku sebut,
sampai ga ada lagi yang bersedia mendengarkan ku dan mungkin menangis adalah
jalan terakhir buat melepaskan sesak karena rindu ku pada mu. Air mata yang
jatuh itu bukan karena sakit hati ku tapi rasa rindu yang sangat menyiksa dan
selalu ku tahan.
Terlepas dari itu sejak kepergian mu, aku ingin mencoba untuk mengenal orang
lain di hidupku. Mungkin allah punya rencana indah untuk mempertemukan aku
dengan orang baru yang ga pernah aku kenal sebelumnya, saat ini aku sedang
berteman dekat dengan salah satu mahasiswa di kampus tapi beda jurusan dengan
ku. Sudah 3 bulan kita kenal dan dekat, aku ga pernah sekalipun untuk menyapa
nya duluan, aku juga ga memberikan harapan pada nya tapi dia selalu menganggap
semua sifat ku berlebihan. Sudah ku katakan sebelum nya aku belum bisa memulai
hubungan baru, bukan karena ku tak suka pada nya tapi jelas karena masih ada
luka tusuk yang masih memerah di hati ku. Luka yang belum sepenuh nya sembuh,
aku takut jika nanti dia juga akan melakukan hal yang sama seperti mu. Lagi dan
lagi malam ini dia menelpon ku dan dia selalu menceritakan keseharian nya, aku
Cuma bisa jadi pendengar yang baik sambil tertawa kecil mendengarkan kelakuan
konyol nya. Tidak saat bersama mu, dulu aku yang selalu antusias bercerita di
ujung telpon. Dengan nada yang rendah dia memanggil nama ku lembut dan
pelan-pelan sekali “yar maaf udah lancang kalau aku cinta sama niyar”. Ga tau
mau ngomong apalagi, udah cukup aku menjadikan orang lain pelampiasan buat
melupakan mu, aku katakan yang sejujurnya kalau aku masih belum bisa melupakan
mu ;masa laluku. Tapi dia bilang dia setia sampai kapanpun aku bisa menerima
nya, sampai kapan aku bisa melupakan mu, kamu tau ga dia itu beda banget sama
cowo-cowo yang lain, dia itu sama kaya kamu dulu yang selalu nurut kalau aku
bilangin, dia mau berubah ke hal yang lebih baik, dia mau jadi seseorang yang
aku inginkan mesti harus berlawanan dengan karakternya, dia juga menerima
keputusan ku karena dia yakin aku adalah pendamping hidup yang di kirim allah
untuk nya. Aku ga akan tega memainkan perasaan orang yang seperti itu,karena
aku tau sakit nya di mainkan sama orang yang kita cintai. Tapi hati ku selalu
dan selalu menolak kedatangan pria baru, entah lah dulu sebesar apa cinta ku
pada mu yang membuat jejak yang sulit ku hapuskan.
0 komentar:
Posting Komentar